Bagaimana rasanya jika tidak percaya doa, ya?
Apa yang bisa engkau harapkan wahai kaum tak percaya doa?
Padahal doa perlahan menjawab kegelisahan, keraguan, pertanyaan, dan entah rasa tak enak hati lainnya sering melanda
Lalu kemana kau akan meminta?
Wahai yang mengaku mengandalkan 100℅ logika?
Seperti baru-baru ini,
Dua doa lama yang dikabulkan.
Satu, doa untuk seorang sahabat yang kembali berjamaah
Dua, doa untuk seorang sahabat yang lama 'hilang entah kemana. Ia ada tapi seperti tak ada(?).
"Kalau sholat ajak-ajak dong. Aku sholatnya besok aja ya, hari ini belum siap"
Hari itu aku senyum-senyum sendiri, berucap syukur berkali kali atas doa yang Dia kabulkan. Seketika aku teringat ini:
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]
YaAllah jadikan dia orang yang bertakwa, satu pintaku yang semoga mencakup seluruh harapanku untuknya
Ok next.
Dua, tentang sahabat hilang yang entah kemana.
Kamu tau? Mencari sahabat itu memang sulit. Kita tidak bisa membohongi bahwa 'klop itu benar adanya.
Mungkin banyak dari kita yang memiliki sahabat, namun mencari yang klop itu tidak mudah.
Suatu hari aku rindu dengan sahabatku, kemana dia?
Lalu aku terfikir seperti aku kehilangan sahabat. Yang satu menikah, dan yang satu lagi menghilang.
Sudahlah, mungkin menjadi dewasa memang seperti ini, semakin tidak berjamaah.
Yang menghilang, sebenarnya lebih dulu daripada yang menikah.
Waktu sahabat lamaku menghilang, sahabatku yang lain yang akan menikah seakan menjadi pengganti.
Lalu sekarang, sewaktu sahabatku yang seakan menjadi pengganti itu sekarang fokus dengan pernikahannya, sahabatku yang dulunya menghilang kembali datang, seakan menjadi pengganti sahabatku yang telah menikah.
Orang datang dan pergi,
Sahabat datang dan pergi.
Keluarga, rekan kerja, dan siapapun datang dan pergi.
Tuhan tidak, memang.
Entah ada korelasi atau tidak,
Aku jadi teringat kutipan dari sebuah novel sejarah yang aku baca beberapa tahun lalu.
"Berhati-hatilah dengan cinta. Fitrah manusia adalah senang untuk mencintai dan dicintai.
Namun, waspadalah, suatu hari akan tiba saatnya engkau diuji dengan apa yang engkau cintai.
Engkau akan diuji dengan kehilangan sesuatu yang telah engkau cintai. Engkau akan diuji dengan apa saja yang engkau cintai.
Rangkaian takdir akan mengujimu. Mungkin engkau akan tercengang saat menyaksikan takdirmu. Mungkin juga engkau akan bingung.
Oleh karena itu engkau harus selalu jeli dan mawas diri jangan sampai terpedaya oleh cinta yang dapat melemahkanmu."
.
.
Ah, but currently im in love with this book. Still on "Hajar (ra) a novel by Sibel Eraslan"
Apa yang bisa engkau harapkan wahai kaum tak percaya doa?
Padahal doa perlahan menjawab kegelisahan, keraguan, pertanyaan, dan entah rasa tak enak hati lainnya sering melanda
Lalu kemana kau akan meminta?
Wahai yang mengaku mengandalkan 100℅ logika?
Seperti baru-baru ini,
Dua doa lama yang dikabulkan.
Satu, doa untuk seorang sahabat yang kembali berjamaah
Dua, doa untuk seorang sahabat yang lama 'hilang entah kemana. Ia ada tapi seperti tak ada(?).
"Kalau sholat ajak-ajak dong. Aku sholatnya besok aja ya, hari ini belum siap"
Hari itu aku senyum-senyum sendiri, berucap syukur berkali kali atas doa yang Dia kabulkan. Seketika aku teringat ini:
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]
YaAllah jadikan dia orang yang bertakwa, satu pintaku yang semoga mencakup seluruh harapanku untuknya
Ok next.
Dua, tentang sahabat hilang yang entah kemana.
Kamu tau? Mencari sahabat itu memang sulit. Kita tidak bisa membohongi bahwa 'klop itu benar adanya.
Mungkin banyak dari kita yang memiliki sahabat, namun mencari yang klop itu tidak mudah.
Suatu hari aku rindu dengan sahabatku, kemana dia?
Lalu aku terfikir seperti aku kehilangan sahabat. Yang satu menikah, dan yang satu lagi menghilang.
Sudahlah, mungkin menjadi dewasa memang seperti ini, semakin tidak berjamaah.
Yang menghilang, sebenarnya lebih dulu daripada yang menikah.
Waktu sahabat lamaku menghilang, sahabatku yang lain yang akan menikah seakan menjadi pengganti.
Lalu sekarang, sewaktu sahabatku yang seakan menjadi pengganti itu sekarang fokus dengan pernikahannya, sahabatku yang dulunya menghilang kembali datang, seakan menjadi pengganti sahabatku yang telah menikah.
Orang datang dan pergi,
Sahabat datang dan pergi.
Keluarga, rekan kerja, dan siapapun datang dan pergi.
Tuhan tidak, memang.
Entah ada korelasi atau tidak,
Aku jadi teringat kutipan dari sebuah novel sejarah yang aku baca beberapa tahun lalu.
"Berhati-hatilah dengan cinta. Fitrah manusia adalah senang untuk mencintai dan dicintai.
Namun, waspadalah, suatu hari akan tiba saatnya engkau diuji dengan apa yang engkau cintai.
Engkau akan diuji dengan kehilangan sesuatu yang telah engkau cintai. Engkau akan diuji dengan apa saja yang engkau cintai.
Rangkaian takdir akan mengujimu. Mungkin engkau akan tercengang saat menyaksikan takdirmu. Mungkin juga engkau akan bingung.
Oleh karena itu engkau harus selalu jeli dan mawas diri jangan sampai terpedaya oleh cinta yang dapat melemahkanmu."
.
.
Ah, but currently im in love with this book. Still on "Hajar (ra) a novel by Sibel Eraslan"
Komentar
Posting Komentar